Branding sederhananya adalah upaya membangun citra. Dan brand kita akan dikenal dengan citra yang dibangun oleh strategi branding kita. Misalnya kita melakukan branding usaha kita sebagai toko bakmi pangsit terenak. orang akan mencari kita ketika mereka lagi butuh bakmi pangsit yang enak. Nah namun pertanyaannya, apakah toko bakmi kita memang memiliki paksi yang terenak sesuai dengan citra yang dibangun?
Kalau jawabanya tidak, berarti akan terjadi diskoneksi branding dengan produk, yang akan membuat customer kita merasa “dikerjain” branding. Diberikan harapan, lalu dikhianati.
disini kita belajar, kalau branding itu perlu dipikirkan baik-baik, dibutuhkan kejujuran owner terhadap produknya sendiri, agar upaya branding bisa dikalibrasi sesuai dengan keadaan nyata suatu produk. Kalau ternyata belum level “terbaik” mungkin bisa dengan “bakmi pangsit dengan porsi daging yang melimpah” nah ini lebih spesifik, dan mungkin lbh faktual. Lebih baik dalam menjaga ekspetasi customer.
3 Strategi yang bisa jadi senjata makan tuan:
- Diskoneksi branding >< Produk (Diskoneksi branding dan produk)
- Dipenjara strategi branding sendiri (Branding yang tidak memperhitungkan perkembangan)
- Branding yang terlalu fokus untuk jadi si keren. (Branding tanpa memperhitungkan potensi bisnis)

No Comments.