Referensi tidak akan pernah lekang dari kehidupan insan kreatif. Namun pada prakteknya, justru terkadang referensi yang menginterferensi sisi kreatif kita.
Kami mencoba memetakan tingkat-tingkat bagaimana seseorang bisa berinteraksi dengan referensi.
Referensi untuk Belajar
Fase dimana referensi menjadi wadah untuk mempelajari hal-hal teknikal. Bagaimana membuat approach tipografi serupa, bagaimana menghasilkan tekstur tertentu, bagaimana melatih eksekusi kita.
Antara referensi dengan karya sudah jelas akan terlihat mirip, oleh karena itu hal ini jadi tidak etis bila dijadikan sebagai suatu project komersil. Namun sebagai arsip pribadi dan dokumentasi latihan? sangat dianjurkan.
Referensi untuk Inspirasi.
Kamu mendapatkan brief untuk membuat sesuatu dengan spesifikasi tertentu. Kamu mulai berpetualang di lautan jaringan nirkabel, mengambil referensi ini dan itu. Dan kamu mulai duduk dan mencoba menfabrikasi sesuatu yang “baru” dari kumpulan referensi tersebut.
Lahirlah sebuah karya yang terlihat baru, benarkah demikian? Terkadang fase ini bukan membuat kita bebas berkarya, namun justru seolah mengkotakan hasil karya kita. Berikan beberapa potongan referensi, dan output karya tersebut sudah bisa dikira-kira bagaimana bentukannya.
Tidak bisa dipungkiri, hingga sekarang pun, kami sering terjebak di fase ini secara sadar ataupun tidak sadar. Namun apakah hal ini merupakan cara terbaik dalam memandang referensi? Disaat belajar, referensi menjadi “guru” yang membantu kita meningkatkan kualitas output, tapi dalam ranah profesional, sadar gak kalau referensi itu adalah.. kompetitor kita? Bisakah kita bertumbuh melewati mereka apabila dasar dari karya kita masih merupakan bagian dari arsip mereka? Mungkin mereka sekarang sedang sibuk menciptakan hal baru lainnya, dan selamanya kita tertinggal 1 2 atau 3 langkah.
Referensi Untuk Menvisualisasikan
Satu level sedikit lebih tinggi dari memanfaatkan referensi untuk inspirasi. Setelah menyusun strategi berdasarkan objektif yang ada, biasanya kita memperoleh keywords-keywords tertentu. Nah perbedaan dari sekedar mencari referensi adalah kita sudah sadar tentang hal apa yang kita ingin achieve namun memerlukan visualisasi atas hal tersebut.
Misalnya keywords Sophisticated, Established, dan Meticulous. Kita akan berselancar diatas lautan referensi dan yang mana bisa merefleksikan keywords tersebut akan masuk kedalam kumpulan referensi kita. Tidak berhenti disana kita membedah anatomi referensi itu, mencoba mengerti apa yang membuat referensi itu bisa merefleksikan keywords kita, tekstur? tipografi? layout? warna?
Akhirnya kita akan berakhir dengan kumpulan hasil pembelajaran bahwa keywords A bisa direfleksikan lewat elemen visual X Y Z. Kumpulan pembelajaran inilah yang kemudian menjadi modal untuk mengeksekusi brief yand ada. Kemungkinan untuk bisa menghasilkan karya yang baru semakin meningkat.
Mempelajari referensi sebagai gaya hidup bukan proses dalam berkarya.
Seseorang yang mampu menemukan keindahan disekelilingnya; dari poster di pinggir jalan, desain absurd juniornya, karya random di social media, puisi, lagu, dan segala hal yang bersinggungan dengan langkahnya. Bukan hanya melihat, ia merasakan, dan mencoba mengerti sumber keindahan tersebut. Hasil proses tersebut kemudian diarsipkan dalam kekayaan pembendaharaan memori mereka.
Sehingga pada saat brief datang, biarkan kekayaan dan pembedaharaan otak kita yang menjadi pemeran utama dalam menciptakan jawaban atas brief yang ada.
Kami percaya hal-hal magis untuk meciptakan suatu patah dalam kultur lebih mungkin untuk terjadi. Pergeseran tren selalu diinisiasi dari para cotrarian, bisakah seorang menjadi contrarian bila masih menjadikan kiri kanan sebagai acuan?

No Comments.